Bore up Bajaj Pulsar 135

Motor batangan keluaran Bajaj yang satu ini memang banyak jadi andalan. Mesin 135 cc yang powerful lagi hemat dikemas dengan harga terjangkau. Belum lagi teknologi pengapian ganda dan multi valves yang jadi kelengkapan standar.

Hanya saja, banyak merasa belum puas dengan kapasitas mesin 135 cc yang dianggap tanggung.“Kalau bisa 150 atau 160 cc pastinya bisa bersaing performa dengan sang kakak yang mengusung 180 cc,” jelas mekanik kita yang menggeber Pulsar 135 versi bore-up.

Bukan berarti kita harus ganti motor yang lebih besar, misalnya Pulsar 180 atau yang baru Pulsar 220 (itu kalau duitnya ada). Jalan satu satunya bikin motor kita Pulsar 135 setara bahkan lebih dari performa kakaknya  Pulsar 180 dengan cara bore up.

 


Piston Thunder 125 oversize: 50 untuk kapasitas 148 cc (kiri). Bubut noken as pada bagian pinggang untuk akselerasi bawah (kanan)

Lantas apa saja sih, jurus yang bisa dipakai untuk mendongkrak volume mesin?
Tentunya membuat mesin menjadi besar.
Peningkatan kapasitas bisa leluasa karena jarak PCD (pitch circle diameter) Pulsar 135 cukup besar. “Mau pakai piston 60 mm juga masih bisa tanpa harus geser ke-4 stud,”

Tetapi kalau mau versi harian, silakan bore-up pakai piston Suzuki Thunder 125 oversize 0.50. Bicara dimensi dan ukuran, identik dengan piston Pulsar 135. “Hanya saja, top piston agak nongol sekitar 1,4 mm,” terang mekanik kita.


Paking blok aluminium 1,5 mm agar piston mendem 0,1 mm

Untuk itu, sediakan paking blok alias adaptor aluminium untuk bisa membuat piston mendelep. “Buat paking aluminium setebal 1,5 mm agar piston bisa terbenam sekitar 0,1 mm,” terang mekanik kita.

Menurut mekanik kita komposisi ini sudah pas karena top piston Thunder 125 memiliki desain flat top. Sementara pin piston tak ada masalah karena diameter sama persis dengan Pulsar 135, yakni 14 mm. Selesai sudah, Pulsar 135 langsung meningkat menjadi 152,6 cc bermodal piston 57,5 mm (oversize 0.50).

Tetapi kalau akselerasi tetap galak di putaran bawah, bisa bubut camshaft standar pada bagian pinggang alias LSA agar lebih ramping. “Bubut sedikit saja, paling banter 0,3 mm biar akselerasi terjaga karena kapasitas mesin yang sudah lebih besar,” terangnya.

Dengan perbandingan kompresi 11:1 dianggap masih layak pakai untuk harian dengan bahan bakar premium. Tetapi kalau mau yahud, jejali Pertamax 92 untuk lifetime mesin yang telah menghabiskan dana sekitar Rp 1,4 juta untuk bore-up ini. 

 

Sumber : motorplus

 

 

2 responses

  1. boleh juga.
    alamat bengkelnya di mana?

  2. mantap neh pak bro…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: